header image

keluhQ

Posted by: hque83 | 15 February 2009 | No Comment |

Jaim…

Sory ..

Aq td jaim

Knapa begitu berat untuk mengungkapkan : “I still remember U!!!”

huh..

under: Uuuurghhh!!!

WE WILL NOT GO DOWN

Posted by: hque83 | 26 January 2009 | No Comment |

WE WILL NOT GO DOWN

(Song for Gaza, Composed by Michael Heart)

A blinding flash of white light
Lit up the sky over Gaza tonight
People running for cover
Not knowing whether they’re dead or alive

They came with their tanks and their planes
With ravaging fiery flames
And nothing remains
Just a voice rising up in the smoky haze
We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

Women and children alike
Murdered and massacred night after night
While the so-called leaders of countries afar
Debated on who’s wrong or right

But their powerless words were in vain
And the bombs fell down like acid rain
But through the tears and the blood and the pain
You can still hear that voice through the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

under: REd AlerT

Sebel!!

Posted by: hque83 | 5 November 2008 | No Comment |

Uuuuurrrghhhh!!!

Beberapa hari nie bete buangetzz rasanya!!

kesel!depresi,frustasi!!!

HUUUUUWWAAAAAAHHHHHHHHHH!!!!!!!!

under: Uuuurghhh!!!

Melihatmu Lebih Dekat

Posted by: hque83 | 3 November 2008 | No Comment |

“Adeeeekk!!!!!”

’’BANGUUUNN!! Jam setengah enam!!”

“Adek mau berangkat jam berapa??!!”

“Subuhan juga engga’!!”

”Seragam udah disetrika belum??’’,

“Dibilangi kalau setrika itu sehari sebelumnya!! Disiapin baju yang mau dipake, buku-buku yang dibawa. Dicek sekali lagi sebelum berangkat. Mungkin ada yang lupa dimasukin!!”

“Sarapan dulu!! sarapan itu penting!!”

“……ADEEEEKK!!!!”….bla..bla bla…

Ooo my…,,kalimat-kalimat itu seakan lagu wajib yang setiap pagi harus diperdengarkan!!

Tak ada perubahan nada dan irama sedikitpun. Mungkin waktu kecil  Umi punya obsesi menjadi seorang penyanyi!! Yeahh… mungkin sekali tempo aku harus menanyakan itu. Heem…

Aku dua bersaudara. Aku dan abangku. selisih kami 3 tahun. Selain kami dibedakan atas jenis kelamin, sifat kami pun juga berbeda 180 derajat. Abangku penyabar sedangkan aku emosional. Abangku pendiam dan aku cenderung banyak bicara. Abangku…bla..bla..bla..dan aku…bla..bla.. bla…,banyaklah sifat kami yang berbeda. Tapi dari sekian perbedaan kami, kami masih juga punya kesamaan. Sama-sama suka berpetualang, sama-sama suka kucing, sama-sama penggemar komik dan terlebih sama-sama suka uang!!hehe..

Kami juga punya kebiasaan yang sama. Sama-sama suka tidur larut malam dan bangun larut siang. Dan karena itu  Umi jadi bisa mempertahankan kualitas vocalnya. Setidaknya itu menurut kami.

“ADEEEEK!!”

“Adek tu udah gede!!”

“Kalo dibilangi ga pernah nurut!!”

“Ini uda jam berapa?? Makanya kalo tidur itu jangan malam-malam!!”

“Tadi abangnya belum bangun ga mau masuk kamar mandi dulu. Sekarang rebutan!!”

♣♣♣

11.30 pm, 2003 (at boardinghouse)

( Hehe… ) Sambil menatap langit-langit kamar kos, aku tersenyum-senyum sendiri. Teringat teriakan-teriakan Umi dipagi hari 2 tahun silam. Kangen rasanya. Kalimat-kalimat yang dulu aku benci, yang bosan aku dengar karena hampir tiada pagi tanpa kalimat-kalimat itu. Malam ini aku sangat merindukannya. Bahkan hampir setiap pagi aku merindukannya.. .(oouch..miz u mom!!)

Jauh dari rumah. 2 tahun sudah. Lulus dari SMU aku memutuskan melanjutkan studiku ke kota kembang. Beruntung, aku diterima UMPTN. Aku mengambil jurusan komunikasi. Berat bagi Abi maupun Umi untuk melepaskanku. Bagi mereka aku masihlah anak kecil yang belum pantas untuk dilepas dikota yang jaraknya ribuan mil. Tapi Abi dan Umi adalah orang yang sangat memahami arti penting sebuah pendidikan. Maka, di awal bulan September 2001 berangkatlah aku ke kota kembang.

Tanpa teriakan Umi di pagi hari. Tanpa godaan Abi tiap pulang sekolah. Tanpa kehadiran tangan usil Abangku.

♣♣♣

Nada dering hape Siemen C45 ku berbunyi. Layar kuning itu memunculkan nama “Brother”. Abangku menelpon.

Abang memintaku untuk pulang. Abi sakit. Detak jantung seakan berhenti. Jarang ku melihat Abi sakit. Bahkan sampai aku sebesar ini jarang sekali aku melihat Abi sakit. Paling masuk angin biasa. Abang sampai memintaku untuk pulang. Pasti sakit Abi berat.

Umi sering bilang kalo aku anak kesayangan Abi. Aku paling dekat dengan Abi. Sampai-sampai jika Abi sakit akupun ikut sakit. (ya eyalah.. kalo sakitnya flu..pasti satu rumah ada yang tertular..dan yang paling gampang tertular adalah aku..hehe…)

Rabu pagi aku tiba dirumah.

Tak kuasa aku melihat keadaan Abi. Baru 1 bulan yang lalu aku lihat Abi masih gagah. Badannya masih tegap berisi. Masih menggoda aku ketika aku pulang kerumah untuk berlibur. Jalan-jalan ke pasar bersama. Dan masih terdengar lantunan ayat Al Quran seusai sholat magrib. Hari ini..mataku tak sanggup menahan air mata. Abi begitu lemah terbaring ditempat tidur. Kurus. Tak bertenaga. Rambutnya dipenuhi uban. Dan sorot matanya yang menyimpan kebijaksanaan menatap kosong dan lemah ke arahku. Aku…aku tak sanggup melihatnya!!

Abi..bahkan aku tak cukup mengenalimu. Dimana sosok yang selama 20 tahun ini aku kenal dan aku pahami..

( Ya Allah.. sesungguhnya telah Engkau tuliskan jalan kehidupan ini. Bagiku, bagi keluargaku, bagi saudaraku, bagi semua makhluk di bumi ini…)

Abang bilang Abi kena komplikasi saluran kencing.

1 tahun sudah Abi lebih banyak menghabiskan waktunya di tempat tidur. Tempat tidur di rumah maupun di rumah sakit. Segala usaha telah kami lakukan. Dokter, operasi, alternative,..semua…segala bentuk doa dan ikhtiar kami lakukan.

♣♣♣

Semarang- Bandung menjadi rutinitas perjalananku. Dulu mungkin 6 - 8 bulan sekali aku pulang. Semenjak Abi sakit hampir setiap ada kesempatan pasti aku langsung pulang. Walaupun hanya dua tiga hari. Dan setiap kepulanganku kulihat Abi semakin melemah. Ingin kumenangis. Tapi selalu tertahan oleh ketegaran Umi. Abangku?? Aku yakin abang cukup tegar. Dibalik sosoknya yang semaunya sendiri, abang adalah laki-laki yang bertanggung jawab. Selama ini, abanglah yang selalu mendampingi Umi menjaga Abi. Aku??. Jarak membuatku tak bisa senantiasa disisi Abi. Di kala Abi sakit, wujud baktikupun tak nampak. Tidak berbaktikah aku?? Hingga kini penyesalan itu masih mendiami sudut hatiku.

♣♣♣

7 April 2004. Allah mengambil kembali milik-Nya…

Milik-Nya yang begitu sempurna, yang telah mengisi hidupku, yang menjadi bagian hidupku…

♣♣♣

Tek..tek..tek..

Suara keyboard terdengar diantara winamp dan televisi yang dinyalakan bersamaan.

Umi berada di depan televisi. Asyik menonton sinetron yang sedang diputar di tv swasta. Aku di kamar. Mengetik proposal proyek yang rencana akan aku ajukan besok. Yeah..kini kami tinggal berdua. 2 Tahun lalu Abang menikah. Sebulan setelah menikah Abang pindah. Tinggal di kontrakan dekat dengan tempat Abangku bekerja.

Sepi rasanya.

Setelah sekian lama berada di depan komputer, badan mulai terasa pegal. Mataku terasa pedas. Kuregangkan otot-ototku. Sambil mengistirahatkan mata aku pergi ke dapur. Mengambil segelas air mineral.

Melewati depan televisi, kulihat Umi sudah tertidur. Yeah..seperti biasa..pada akhirnya televisilah yang menonton Umi.

Kulangsung menuju dapur.

Ketika akan kembali ke kamar, kusempatkan untuk mengutak-atik remote control televisi sejenak. Get fresh!

Kuganti-ganti channel televisi. Dari stasiun A sampai Z. Sepertinya memang tidak ada acara yang menarik buatku. Jam-jam segini memang semua acara di dominasi sinetron. Dari yang model anak sekolahan, percintaan yang rumit, religi, komedi, dan lain sebagainya. Para pemilik stasiun berlomba-lomba menayangkan sinetron unggulannya. Padahal menurutku hampir tak ada sinetron yang mempunyai kualitas mendidik. Rata-rata hanya menjual angan-angan.

Saking kesalnya karena tidak menemukan acara yang menarik, tanpa sadar aku menggerutu sendiri. Karena bersuara, aku baru teringat kalau disebelahku ada Umi yang sedang tidur. Kulirik Umiku. Entah apa yang sedang diimpikannya, yang kulihat wajahnya sedikit tersenyum. Mungkin sedang bertemu dengan Abi. Melepas kangen. Atau sedang bermimpi berada di hypermarket dan memborong beraneka macam barang. Belanja baju, tas, jewelry?? Mungkin…..

Kembali kulirik dan kulihat Umi. Kali ini ekspresinya telah berubah. Mungkin scene of dreaming-nya telah berganti. Kali ini cukup lama aku menatap Umi. Kuperhatikan setiap sudut wajahnya. Garis matanya, air mukanya, detail dari kerutan-kerutan diwajahnya.

Entah kenapa tiba-tiba hati ini bergetar. Sosok yang mengandungku, melahirkanku ke dunia, merawatku, mendidikku, menjagaku,..memberiku sebuah nama yang indah dan penuh arti…selalu ada dikala aku senang dan sedih, sehat dan sakit, tempatku bermanja..

Begitu tegar pribadinya ketika merawat Abi saat itu. Siang malam menjaganya. Tidur di lantai beralaskan karpet tipis ketika menemani Abi di rumah sakit. Atau bahkan tidak tidur sama sekali. Ditahannya airmata hanya untuk menunjukkan ketegaran dan optimisme akan keajaiban Tuhan.

Rela berpuasa sekian hari, bangun tengah malam, membasahi wajah dan anggota tubuhya dengan air wudhu serta tak sekalipun melepaskan dzikir dari bibirnya, untuk memohon kesembuhan suaminya tercinta.

Umi…,hanya engkau yang kumiliki kini.

Tak kusadari telah banyak kesalahan yang aku lakukan kepadamu. Meski engkau selalu marah-marah, aku yakin itu adalah wujud kasih sayangmu.

Semua yang terdengar menyebalkan dan membosankan yang keluar dari bibirmu, begitu banyak mengandung hikmah. Yang baru kusadari setelah sekian lama.

Dulu wujud baktiku pada Abi belum sempat kutunaikan. Kini hanya padamu kuingin wujudkan itu semua.

Kadang masih terasa berat. Cara engkau berpikir dan cara aku berpikir terhalang oleh banyak hal. Pikiran konservatif yang masih mendominasi, berlawanan dengan pemikiranku yang lebih kekinian.

Ingin sekali kuabaikan itu semua… hingga baktiku padamu terwujud.

Mampukah aku mengganti semua yang telah kau berikan??

Kurasa tak akan pernah.

Tak akan…,

NEVER!!!

♣♣♣

(Tribute to :

my beloved father ,” I wish Allah sent million angels to protect you until heaven be yours.

My beloved Mommy,” diamku bukan karena ku tak ingin bicara, tapi ku takut ada salah kata yang membuatmu murka..”)

under: Widya has stories

04.55 pm

Posted by: hque83 | 17 September 2008 | 3 Comments |

04.55 pm. Judul yang pada akhirnya aku pilih. Sebenarnya aku lebih suka tulisan ini tanpa judul. Karena tulisan ini berawal dari rasa. Rasa yang pernah ada, datang untuk sesaat dan kemudian pergi lagi. Mungkin sewaktu-waktu akan kembali lagi…



Rasa itu berawal dari suatu kejadian di sore hari di pertengahan bulan ramadhan 1429 H. Let’s begin…

Bagiku makanan pembuka untuk berbuka puasa yang paling nikmat adalah pisang goreng. Sesuai sunah rasul juga..”berbukalah dengan yang manis”. Karena aku tidak terlalu suka dengan yang manis-manis, maka pisgor adalah pilihan yang tepat. Sweet but not to sweet.

Kalau harus menggoreng sendiri di rumah..,butuh biaya dan tenaga extra. Harus beli pisang, tepung, mengupas, membuat adonan, menggoreng..dll. Me and mom haven’t much time! So lebih baik beli saja lah. Praktis dan efisien.

Karena ini adalah bulan puasa, bisa jadi dan sudah terbukti dari tahun ke tahun…pisgor n friends menjadi the most favorite appetizing. Jadi kalo ingin membeli ya harus datang lebih awal ke penjual gorengan.

Hari itu, aku putuskan untuk pergi ke penjual gorengan 45 menit sebelum buka. Tepatnya 04.55 pm. Aku pikir belum terlalu ramai. Jadi tidak perlu berlama-lama mengantri.

Tapi…o’ow..tenyata dugaanku salah. Ternyata sudah banyak yang antri. Ouwke..karena aku anak baek-baek..maka dengan taat aku antri. Ku posisikan dibelakang orang yang datang paling akhir. Harus menunggu juga karena gorengan yang tersedia sudah habis.

Beberapa saat setelah aku datang, calon-calon pembeli lainnya pun berdatangan lagi. Beberapa tertib dibelakangku. Beberapa ada yang pergi lagi. Mungkin karena melihat antriannya sudah cukup panjang. Back to antrian, sejauh ini orang-orang terlihat cukup tertib. That’s good!! Aku pikir..ada kemajuan juga dalam hal antri mengantri. Let’s give applause!!

Pengantri paling depan terlayani, maka satu step aku maju. Bagus!! Masih tertib. Kalau model tertib antri begini pasti aku bisa dapat gorengan sebelum waktu buka (pikirku..).

Tapi…,wait!! Kok ada orang yang baru datang tapi dilayani dulu??? dengan sedikit obrolan yang terdengar cukup friendly antara penjual dan pembeli, gorengan yang diinginkan pun dibungkus dengan manis dan segera diserahkan. Aku rasa orang itu tidak pesan sebelumnya karena baru datang dan baru menyebutkan pilihannya. Karena cukup lama berada disitu, aku bisa membedakan mana yang pesan terlebih dahulu dan mana yang main serobot.

Ow..selidik punya selidik ternyata orang tadi memang telah kenal dengan penjualnya. Dan itu kurang lebih ada 3 orang yang diperlakukan seperti itu. “Urgh!!keselnya!!” Memangnya kalo ingin dapat gorengan cepat aku harus kenal dulu dengan penjualnya?? “Bete’!!” Puasa tinggal hitungan menit..aku harus dilanda emosi yang berlebih. Bukan itu saja yang buat aku kesal. Hal lainnya adalah semakin dekat dengan waktu buka, semakin banyak pengantri yang tidak sabaran. Badanku di dorong-dorong. “Sebenarnya sadar ga sih ada orang didepannya???”dekat kompor lagi???bagaimana kalau aku kecemplung di penggorengan yang besar itu??kan batal juga dia beli gorengan. Yang ada malah mengantar aku ke puskesmas atau ke kantor polisi. Karena kalau sampai itu terjadi aku akan melaporkan atas kasus penyerobotan sehingga mengakibatkan luka bakar!!(hehe..)

Finally 5 menit sebelum waktu buka, aku sudah mendapatkan gorengan. 15 biji!! dibungkus cantik dalam plastik warna hitam.

Hah..lega rasanya..☺☺☺

Dalam perjalanan pulang aku jadi kepikiran tentang kejadian tadi.

Dalam hal yang paling kecil dari sisi kehidupan pun telah banyak terjadi ketidakadilan, ketidakdisiplinan, mungkin juga ketidakpercayaan. Diluar itu masih banyak “ketidak-an” lainnya dalam kehidupan ini. Dari hal yang sepele pun emosi bisa meluap. Egoisme telah melahirkan ketidaksabaran. Ketidaksabaran berkembangbiak menjadi ketidakdisiplinan. Kalau “ketidak-an” tersebut mengakibatkan terjadinya sesuatu yang buruk, siapa yang akan dipersalahkan? Apakah kambing hitam yang selalu dijadikan terdakwa utama?? Kasus “gorengan”, itu baru salah satu kejadian kecil. Yang mungkin dianggap angin lalu bagi para pelakunya. Desak-desakan, main serobot, nepotisme, menjadikan emosi sesaat. Tapi kemudian hilang. Muncul lagi dan hilang lagi. Padahal dari hal yang kecil jika dibiarkan bisa menjadi kebiasaan dan melahirkan hal yang besar. Bagus jika hal kecil itu adalah sesuatu yang positif. Jika sebaliknya??

Tapi kembali lagi, akar dari semua permasalahan adalah dari diri kita sendiri. OUR SELF!! diri kita yang tanpa disadari telah memulai “ketidak-an” tersebut. Untuk itu dibutuhkan ruang kaca. Kaca yang ada di depan, di belakang, di samping, di atas,di bawah dan di segala sudut. Yang setiap saat dapat menampakan segala sesuatu yang ada dalam diri kita. Buruk dan baik. Baik dan buruk.

Bukan saatnya lagi untuk merenung. Karena kita telah diajarkan untuk merenung semenjak kita masih berada disekolah dasar. Minimal kita diminta merenungkan pengorbanan para pahlawan yang telah gugur setiap tanggal 17 agustus. Jadi minimal kita bisa hitung sudah berapa kali kita diajarkan dan diminta untuk merenung. Itu baru tiap tanggal 17 agustus. Belum event-event yang lain. Realisasinya?? Apakah renungan itu telah memberikan hasil?? Minimal sebanyak kita diminta untuk merenung??

Heeemmm……

Ouwke..aku tidak akan banyak-banyak mengkritik orang lain, menuntut, mendesak atau sekedar translate buku spiritual, buku motivator or anything else untuk berbuat lebih baik. Jika semua berawal dari diri sendiri…, baiklah…I will start from my self!!

Tapi aku butuh ruang kaca yang senantiasa memperlihatkan dengan segenap kejujuran apa yang ada dalam diriku. Keburukanku, kesalahanku, kealpaaanku, kesombonganku, kepicikanku, dan segala yang ada dalam diriku. Buruk-baik,baik-buruk.

So, I need u all to watching me. As mirror…

04.55 pm…, rasa itu suatu saat akan muncul kembali. Dan aku berharap saat itu aku telah memiliki ruang kaca. And hopefully much semua orang juga punya…

under: REd AlerT
Tags:

Categories